Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul tiap kali gue ngobrol sama sesama pekerja lepas di grup WhatsApp: "Bang, perangkat rumah tangga apa sih yang paling bikin boros?" Gue udah denger pertanyaan ini puluhan kali, dengan variasi yang beda-beda tapi intinya sama. Jadi daripada jawab satu-satu, gue tulis aja di sini.
Jujur ya, gue bukan orang teknik listrik. Gue cuma freelancer yang udah lima tahun kerja dari rumah, sempat kaget lihat tagihan naik dua kali lipat di bulan pertama WFH, lalu mulai belajar sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Dan ternyata banyak jawaban yang beredar di internet itu... nggak sepenuhnya benar.
Charger yang Masih Nempel di Colokan, Sebenernya Boros Nggak?
Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering gue terima. Jawabannya: boros, tapi nggak seboros yang kamu kira. Charger laptop atau HP yang masih nyolok tapi nggak dipakai itu tetap menarik daya, namanya standby power. Besarnya kecil, biasanya di bawah 1 watt per charger.
Baca juga: Cek Dulu Sebelum Terlambat: 5 Kesalahan Perangkat Harian Pensiunan
Tapi masalahnya bukan di satu charger. Masalahnya di jumlah. Coba hitung di rumah kamu: charger HP, charger laptop, adaptor monitor, speaker Bluetooth yang lupa dimatikan, router, TV standby, microwave dengan jam digital. Kalau ada sepuluh benda kayak gitu dan masing-masing nyedot 0,5–1 watt, totalnya bisa 5–10 watt yang jalan terus 24 jam. Dalam sebulan, itu setara belasan kWh yang basically kamu bayar buat nggak ada gunanya.
Gue sendiri sempat hitung pakai alat pengukur daya murah yang gue beli di marketplace, harganya sekitar lima puluh ribuan. Hasilnya lumayan mengejutkan — bukan karena besar, tapi karena konsisten. Angkanya nggak pernah nol.
Yang bikin tagihan bengkak bukan satu perangkat besar, tapi sepuluh perangkat kecil yang kamu anggap remeh.
Laptop Kerja vs Perangkat Dapur: Siapa yang Menang?
Kalau ditanya mana yang lebih boros antara setup kerja kamu dan peralatan dapur, jawabannya hampir selalu dapur. Tapi bukan yang kamu duga.
Laptop kerja standar, misalnya, biasanya makan 45–65 watt saat dipakai normal. Monitor tambahan sekitar 20–30 watt. Total setup kerja kamu mungkin di kisaran 100 watt. Itu masih wajar.
Sementara itu, dispenser air panas yang nyala terus buat menjaga air tetap panas bisa makan 300–500 watt secara intermiten sepanjang hari. Setrika 300–400 watt. Rice cooker mode warm yang sering dibiarkan seharian, itu diam-diam nyedot daya terus. Dan jangan lupa kulkas yang pintunya sering dibuka-tutup karena kamu kerja di rumah dan jadi sering ngambil minum.
Gue pernah satu bulan sengaja matikan dispenser dan masak air pakai kettle cuma saat butuh. Tagihan turun sekitar delapan puluh ribu. Nggak revolusioner, tapi nyata.
Yang Sering Diabaikan: Perangkat dengan Mode Standby
TV, konsol game, printer, dan mesin kopi otomatis itu punya satu kesamaan: mereka nggak pernah benar-benar mati kalau kamu cuma tekan tombol power di remote. Mereka masuk mode standby, dan mode itu tetap makan daya.
Printer adalah contoh favorit gue. Banyak orang biarkan printer nyala 24 jam karena "biar kalau mau print nggak usah nunggu". Padahal printer inkjet yang standby bisa nyedot 3–5 watt, dan sebagian model malah rutin melakukan self-cleaning yang bikin tinta cepat habis. Jadi kamu bayar listrik plus bayar tinta lebih sering. Dua kerugian sekaligus.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Pekerja Lepas?
Nggak perlu jadi paranoid dan cabut semua colokan tiap malam. Itu melelahkan dan nggak praktis, apalagi kalau kamu kerja sampai larut. Yang gue lakukan sendiri cukup tiga hal ini:
- Pakai colokan yang ada sakelarnya. Satu sakelar buat mematikan seluruh meja kerja (laptop, monitor, lampu, charger) sekaligus. Hemat waktu, hemat listrik.
- Prioritaskan yang watt-nya besar. Dispenser, setrika, rice cooker mode warm, dan pemanas air. Kalau harus pilih mana yang dimatikan, mulai dari sini, bukan dari charger HP.
- Jangan percaya mitos "cabut charger bikin HP rusak". Nggak benar. Yang bikin baterai rusak itu panas berlebih dan siklus pengisian yang salah, bukan mencabut charger.
Satu lagi yang mungkin agak nyambung sama pekerjaan kamu: kalau kamu sering video call seharian, laptop kamu bakal lebih panas dan lebih boros. Gue sempat ganti kebiasaan — matikan kamera kalau nggak perlu, dan itu lumayan mengurangi beban laptop sekaligus bikin baterai lebih awet. Kecil, tapi kerasa di akhir bulan.
Yang Sebenarnya Paling Sering Gue Lupa
Kalau harus jujur, yang paling sering gue lupakan bukan charger. Tapi lampu meja yang gue nyalakan pagi dan baru sadar masih nyala jam sebelas malam. Dan speaker Bluetooth yang gue pakai buat dengerin musik sore hari, lalu gue tinggalkan dalam keadaan nyala sampai besok.
Dua benda itu nggak besar konsumsinya, tapi karena sering dan rutin, efeknya numpuk. Dan anehnya, keduanya nggak pernah muncul di daftar "perangkat boros listrik" mana pun yang gue baca di internet. Mungkin karena terlalu sepele untuk dibahas, padahal justru itu yang paling relevan buat orang yang kerja dari rumah.
Intinya begini: pertanyaan "perangkat apa yang paling boros" itu sebenarnya pertanyaan yang salah. Yang lebih tepat adalah "perangkat apa yang paling sering aku lupakan". Karena dari pengalaman gue, tagihan nggak meledak gara-gara satu benda mahal, tapi gara-gara kebiasaan kecil yang jalan terus tanpa sadar.
Coba deh minggu ini, keliling rumah sekali sebelum tidur, dan catat apa saja yang masih nyala atau masih nyolok padahal nggak dipakai. Kamu mungkin bakal kaget sendiri sama hasilnya.